Jumat, 19 Oktober 2012

Jalan-jalan nekat ke Sabang cuma 3 hari pp

Lama sudah dipendam keinginan untuk ke Sabang, kalau dihitung-hitung yah bertahun-tahun lah. Alasannya bermacam-macam, salah satunya keberanian. Tapi dipertengahan tahun 2011, tepatnya di bulan Juni keinginan tersebut mencuat dan dengan beberapa teman dikantor sepakat mengumpul dana 100 ribu setiap bulan. Ketika hari H tiba, 2 orang teman tidak jadi ikut karena berhalangan, tinggallah kami ber-enam (aku, anakku Dzaky, Nana, Yesi, Ferik dan si supir lintas kota Bang Ucok). Waktu keberangkatan yang disepakati tepatnya tgl.31 Desember 2011, karena ada libur dari tgl.1-2 Januari 2011. Bergerak dari kantor jam 2  siang menuju rumah di jl.Binjei untuk mengambil tas yg berisi perlengkapan dan baju sekalian menunggu anakku pulang sekolah karena dia juga ikut. Suami tidak bisa ikut karena tugas diluar kota. Jam 4.30 sore teman-teman sudah datang menjemput kerumah. Dengan mengendarai mobil Toyota Avanza perusahan dan bekal Rp.3 juta, berangkatlah kami dari rumahku menuju Banda Aceh. Pada saat itu waktu menunjukkan pukul 4.45 sore. Bismillah, perjalanan dimulai. Ternyata kami yg berangkat pada bawa boneka hahaha..

 Kota pertama Binjei lewat, tiba di Kota Stabat kami mampir ke Mesjid untuk sholat Ashar, kesorean ya..., tapi dari pada tidak kami tetap menjalankan ibadah. Setelah selesai sholat mulailah aksi jeprat jepret, yuhuiii....mulai beraksi.


Meski mobil tidak ada music tetapi celoteh kami yang sedang bahagia membuyarkan kesunyian ditambah alunan music dari HP yg secara bergantian memutar lagu-lagu dan suara kami yang mengikuti lirik-lirik lagu.
Tanjung Pura, Pangkalan Brandan lewat, di Pangkalan Susu berhenti untuk sholat Maghrib. Lanjut lagi perjalanan, Besitang, Kuala Simpang, Langsa lewat karena Bang Ucok tancap abis nyetirnya (nama aslinya Sujiarno tapi orang lebih kenal namanya Ucok, lucu ya...?).
Jam 20.30 kami berhenti untuk makan malam di daerah Manyak Payed sebelum Langsa, menu yang ada cuma nasi goreng dan mie instan, lumayanlah untuk mengganjal perut yang sudah ribut sekalian rileks, badan dah terasa pegel-pegel hehe..



Perjalanan dilanjutkan. di Langsa kota kami mengitari lapangan sambil menyaksikan ratusan orang yang menunggu momen kedatangan tahun baru 2012. Beli terompet buat rame-rame an dijalan sambil sahut-sahutan dengan masyarakat yg sudah tidak sabar meniup terompet, halah halah, tapi meriah juga jadinya.
Peureulak, Idi sudah dilewati, diperjalanan dari Lhokseumawe -  Bireun kami berhenti dipinggir jalan didepan kantor polisi yang menembakkan kembang api pertanda pergantian tahun. Goodbye 2011 and Welcome 2012 begitulah kami ucapkan. Dan aku berusaha mengucapkan pergantian tahun dengan menelpon suami namun sinyal kurang jelas, tapi lumayan masih bisa terhubung. Kami sudah melewati Bireun, Sigli dan sekitar jam 02.00 dini hari kami melintasi Seulawah, suasana dijalan sepi sekali dan gelap, tidak ada satupun kenderaan yan lintas kecuali kami dan kami menutupi kesenyapan itu dengan terus berkelakar sekalian membunuh rasa takut karena kata orang-orang daerah ini banyak GAM nya. Tapi Alhamdulillah tidak ada apapun yang terjadi, segalanya aman-aman saja dan......kembali puji syukur kepada Allah karena kami sampai juga dikota Nagroe Aceh Darussalam. Sebagaimana impianku selama ini aku ingin menginjakkan kaki di Mesjid Baiturrahman dan Alhamdulillah tercapai sudah. Kami melaksanakan sholat Subuh sambil menikmati keindahan mesjid dan yang tak boleh dilewatkan adalah aksi jeprat jepret.



Jam sudah bergerak menunjukkan pukul 5.30, kami langsung menuju tempat parkiran tidak jauh dari Mesjid, tepatnya diseberang. Disitu banyak juga mobil-2 yang parkir dan kelihatannya juga sedang melakukan perjalanan seperti kami. Bekal untuk sarapan kami buka, ada roti tawar, cokelat cair, meises, mentega, keju, Pop Mie, Teh, Susu dan Milo. Mulailah beraksi prepare breakfast dan ternyata kami jadi perhatian orang-orang karena kami juga bawa kompor portable dan tabung gas untuk merebus air.



.
.    
Setelah kenyang sarapan kami menuju Museum Tsunami dan seperti biasanya pasti ada aksi jeprat  jepret yang kali ini backgraoundnya Museum. 
 
 
 
Kemudian kami lanjut ke Pelabuhan Ulee Lheue karena tujuan utama kami ke Pulau Weh/Sabang. Sampai dipelabuhan ketemu sama teman sekolahnya Bang Ucok yg kebetulan punya posisi di ASDP. Kami beli tiket ferry cepat sebesar Rp.50 ribu per tiket dan mobil kami tinggal di pelabuhan dengan biaya titip Rp.20 ribu. Jam 9.30 ferry bergerak dan...alamak! waktu itu ombaknya tinggi sekali tapi ferry yang kami tumpangi tak gentar melawan ombak yang tinggi itu. Sempat juga aku merekam deru ombak dari kaca jendela ferry, cukup menegangkan dan lagi-lagi Allah masih merestui perjalanan kami, Alhamdulillah.



Kurang lebih setengah jam kami tiba di pelabuhan Pulau Weh/Sabang dan ternyata banyak juga orang-orang yang menawarkan jasa mobil sewa. Oh iya lupa, waktu di pelabuhan ulee lheue aku ketemu dengan kerabat yang bertugas di Kantor Pos NAD yang kebetulan mengantar tamunya yang akan ke Sabang. Kami ditawarkan sewa kenderaan langganannya, Alhamdulillah, lagi-lagi perjalanan kami dipermudah, yang seharusnya sewa mobil Rp.400 ribu untuk sehari jadi Rp.350.000 dan penjemputan pulang ketempat penginapan.
Ketika sampai disuatu tempat mobil kami suruh berhenti sebentar untuk mengabadikan foto karena backgroundnya bagus banget pemandangannya. Itu adalah Pulau Rubiah yang menjadi target utama kami.


Setelah beberapa kali mengabadikan pemandangan indah kamipun melanjutkan perjalanan kami ke Pantai Iboh. Tiba dipantai Iboh aku terkagum-kagum melihat air yang jernih ditepi pantai, rasanya aq sudah ingin berlari dan menceburkan diri berbaur dengan wisatawan lainnya. Pantainya yang bersih, airnya jernih dan dapat info dari bule-bule yang ada disekitar pantai katanya pantai iboh masih lebih bersih daripada pantaipantai yang ada di Bali, masa sih? Oh iya, disekitar pantai iboh ada beberapa penginapan yang umumnya dimiliki oleh bule-bule yang sudah demen tinggal di Sabang. Kami menyewa kapal bergabung dengan tamunya kerabat aku, Alhamdulillah lagi bisa gratis hehehe...
Begitu kapal bergerak mendekati lokasi terumbu karang sipengemudi kapal memasang kaca ditengah-tengah kapal dan, Subhanallah, cantik sekali kehidupan didalam lautan.
 

Merasa tidak puas melihat dari kapal, kamipun mulai beraksi dengan menyewa perlengkapan snorkling seharga Rp.15 ribu per set. Byuuurrrrrrr, satu per-satu kami menceburkan diri kelaut yang rasanya tidak seperti dilautan tapi dikolam yang luaaaaaass banget. Aduh! gemas sekali aku melihat ikan-ikan warna warni yang berenang didalam laut, ingin rasanya kusentuh. Kali ini aku harus berkata "Wow", keren bangettt! Anakku minta ditarik pakai tali dari Pulau Rubiah ke pantai Iboh saking senangnya. Tapi aq sedikit khawatir, takut kalau terjadi apa-apa. Tapi bersyukur karena dia aman-aman saja.




Perjalanan kami lanjutkan kelokasi paling awal Indonesia tepatnya ke "Titik Nol" yang sekarang ini banyak menjadi tujuan dari para wisatawan. Jalanannya sepi dan masih seperti hutan, segar sekali udaranya. Tak berapa lama kamipun tiba di Tugu Nol Kilometer Indonesia. Sayangnya tugu dan sekitarnya tidak terawat, terlihat kotor dan agak kumuh. Seandainya dijaga dan dirawat pasti lebih menarik. Disekitar tugu ada seekor babi hutan yang sering berkeliaran mencari makan dan tidak mengganggu, bahkan banyak dijadikan objek foto oleh wisatawan. Kamipun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk jeprat jepret disekitar tugu, biasalah.





Setelah puas menikmati suasana sekitar tugu dengan berfoto-foto kami menuju penginapan. Nama penginapannya "Casa Nemo" milik orang bule yang sudah menetap disana. Penginapannya bersih berbentuk pondok pondok dan terbuat dari kayu dan dinding tepas. Lokasinya cukup menyenangkan karena dibawahnya sudah terhampar lautan dengan pantai pasir putihnya. Tiba dipenginapan sudah hampir jam 6 sore, tetapi kondisi tersebut dipergunakan teman-teman dan anakku untuk diabadikan dan aku cukup melihat dari teras kamar karena langsung menikmati ayunan yang ditempatkan di tiang teras, serasa dimana gitu..he..he..





Setelah bersih-bersih dan melaksanakan ibadah shalat Maghrib kami berniat memesan makanan untuk makan malam dipenginapan, tetapi ternyata tidak ada. Mereka menyarankan untuk ke penginapan sebelah yang punya restoran buka sampe pagi. Kami berjalan dari tepi pantai menuju penginapan tersebut kira-kira 50 meter saja dan ternyata tempatnya asyik banget. Banyak bule-bule yang menginap disitu.
Jadilah kami makan malam sambil ditemani suara deburan ombak yang tak mau diam dan terlihat berbuih-buih karena ombaknya kencang, so sweet....

Selesai makan malam kamipun kembali kepenginapan dan istirahat karena besok pagi sudah harus balik ke Banda. Dan begitu jam 8 pagi supir mobil sewa sudah menjemput. Hadehh, mana belum ready semua, jadilah kami kalang kabut siap-siap untuk berangkat menuju dermaga. Sampe di dermaga ternyata kapal fery sudah penuh (maklum, banyak yang liburan tahun baru). kami sudah tidak bisa lagi naik. Selain kami masih banyak penumpang yang tidak bisa naik karena kapal ferry nya betul-betul penuh. Tetapi pada waktu itu keberuntungan masih memihak pada kami (pasti karena izin Allah). Kebetulan Kepala Bag.Penyeberangan di Sabang itu sudah mendapat amanat dari temannya Bang Ucok. Pas detik-detik terakhir ferry mau bergerak kamipun disuruh naik dan ditempatkan diruang VIP pula. Selama penyeberangan kamipun bernyanyi mengikuti video karaoke yang sedang diputar disitu.
Kurang lebih setengah jam kami sudah sampai lagi di Ulee Lheue dan mobil kami dalam keadaan baik selama ditinggal.
Sebelum pulang ke Medan kami sempatkan kerumah kerabat salah satu teman (Nana) yang ada di Banda, tidak sampai setengah jam dan kami dipandu oleh anaknya ke tempat kapal yang terdampar kedaratan.

Kamipun menyempatkan untuk berfoto-foto dan melihat ratusan foto-foto korban Tsunami yang dipajang disalah satu sudut lokasi tersebut. Dari situ kami menuju mesjid Baiturrahman dan mengabadikan dengan jeprat jepret ditepi jalan dekat mesjid.


Hampir jam 11 siang kamipun bergerak menuju Medan dan tepat di Bireun kami berhenti untuk sholat Dzuhur dan makan siang.

Ketika kami sudah selesai makan dan bergerak menuju Medan, Ibu dan Suami nelpon menanyakan kabar kami. Katanya ada kerusuhan di Bireun, ada aksi tembak tembakan. Tapi aku menjelaskan bahwa kami baik-baik dan aman-aman saja. Mungkin keadaan tersebut agak dipedalamannya.
Selama perjalanan pulang tak henti-henti kami menceritakan ulang kesan kesan pada saa mulai berangkat hingga menuju pulang ke Medan lagi. Dan kami menyempatkan berhenti untuk membeli Jeruk Bali yang dipasarkan dipinggiran jalan. Boleh dicoba juga dan rasanya ada yang manis saja dan juga ada yang asam manis.
  

Di Kuala Simpang kami berhenti disalah satu rumah makan untuk shalat Maghrib dan sekalian makan malam. Celoteh kami rasanya tak habis habis untuk mengulang cerita, maklumlah ini baru pertama kalinya bagi kami.


Demikianlah perjalanan singkat kami dan kami sampai dirumah dalam keadaan sehat tak kurang satu apapun. Thankyou Allah.

Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya.....